"Anak Muda Indonesia Jangan Bugil di Depan Kamera!"
Belia yang demen online juga bisa ikut nyuksesin kampanye ini dengan bikin
banner kampanye tersebut dengan mengkopi script berikut ini dan memuatnya menggunakan
program HTML editor (atau program lain buat ngedit situsnya) untuk memajang banner
kampanye pada situs atau blog-nya. Buat deskripsi lebih detail dan kalo pengen tahu lebih
jauh soal kampanyenya, klik aja: http://tvlab.blogspot.com/
Ini dia script-nya:
href="http://tvlab.blogspot.com/2007/04/kampanye-nasional-anak-muda-indonesia.html
" target="_blank"> alt="Stop Bugil" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger2/
7011/925458702500169/269/z/280007/gse_multipart17302.jpg"
height="100"/>
Sedih juga ngedapetin angka koleksi video adegan "syur" di internet yang
produk lokal (baca: Indonesia), jumlahnya mencapai ratusan. Lebih prihatin lagi,
mengetahui fakta, sebagian besar video yang berisi adegan mesra dengan content seksual
tersebut dibuat oleh kalangan pelajar dan mahasiswa.
Cukup mengetik beberapa kata kunci pada situs pencari, voila! Begitu mengklik tombol
"search", akan muncul banyak sekali links menuju content video beginian yang
bisa didownload secara bebas (eh, Belia jangan mencoba cara yang sama ya! Enggak banget
deh, nyari produk porno di internet!).
Mungkin Belia inget, awal 2001, Indonesia sempet dibikin geger dengan video
"Bandung Lautan Asmara" (BLA). Video tersebut berisi dokumentasi pribadi adegan
mesra sepasang mahasiswa universitas terpandang di Bandung. Kejadian tersebut bener-bener
bikin heboh, mulai dari kampus kedua pasangan tersebut sampe aparat turut mengambil sikap
yang dilanjutkan dengan tindakan.
Ih, coba deh Belia posisikan diri jadi mereka! Mau enggak ditonton oleh berjuta-juta
orang saat lagi bermesraan sama pasangan? Enggak, kan?
Kalo dari pengamatan belia (iya, subjektif banget emang), sejak beredarnya video
tersebut, somehow, banyak banget video sejenis yang beredar di masyarakat, dan sedihnya
(lagi-lagi), sebagian besar pelakunya adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
Hal inilah yang membuat Mas Sony Adi Setyawan, bersama rekan-rekannya di TV Lab
Communications Indonesia berkampanye "Anak Muda Indonesia Jangan Bugil di Depan
Kamera!". Akrab dipanggil Sony Set, penulis sejumlah buku dan penulis skrip sinetron
"Dewa 19" ini ngerasa perlu buat nularin keprihatinannya terhadap fenomena
maraknya peredaran cuplikan video porno.
Dari penelitian Mas Sony Set (panggilannya), jumlah klip tersebut jumlahnya sudah
mencapai 500 lebih dan 90% dibuat oleh pelajar SMA dan mahasiswa.
Kebayang enggak, kalo ini semua adalah fenomena gunung es. Jangan-jangan, jumlah
cuplikan film porno yang dibuat anak muda Indonesia telah mencapai ribuan klip?
Jangan-jangan, Belia enggak sadar bahaya yang mengancam, yang semula hanya iseng dan
main-main, berubah menjadi mimpi buruk yang kelak akan menghancurkan masa depan kamu? Wah,
jangan mau jadi korban penyalahgunaan teknologi!
Sejauh ini, Mas Sony Set dan rekannya dari TV Lab Indonesia telah melakukan kampanye ke
kampus-kampus dengan mengadakan diskusi. Kampanye ini juga diteruskan dengan me-launching
buku yang isinya tentang investigasi film porno indonesia. "Kita juga lagi nyiapin
media promosi/kampanye seperti stiker dan kaus. Kita pengen keliling ke sekolah-sekolah
dan melakukan pendekatan agar siswanya mau ngebacain janji pelajar biar enggak bugil di
depan kamera," papar Mas Sony.
Hah? Janji biar enggak bugil? Apa maksudnya?
“DEMI MASA DEPAN KITA DAN INDONESIA YANG LEBIH BAIK, KAMI BERJANJI, TIDAK AKAN
BUGIL DI DEPAN KAMERA!”, demikian bunyi janji yang sedang dikampanyekan dalam
"Anak Muda Indonesia Jangan Bugil di Depan Kamera!"
Dari obrolan dengan Mas Sony, belia bisa tahu kalo video-video yang beredar ada
beberapa kategorinya. Yang pertama, memang dibuat dan diedarkan dengan sengaja oleh
pelakunya. Udah gitu, ada juga dokumentasi pribadi yang diedarkan tanpa sepengetahuan
pembuatnya. Yang terakhir, yang paling parah, adalah video yang dibuat dan diedarkan tanpa
sepengetahuan pelakunya. Yang terakhir, biasanya menggunakan kamera tersembunyi, dan
proses pengambilan gambar dilakukan secara candid. Nah, kalo yang gini udah bisa dibilang
tindak kriminal!
Masalahnya juga, hukum di Indonesia masih belum ketat dan belum jelas perundangannya
dalam mengatur masalah beginian. At least demikian yang dirasa Mas Sony. "Ah lihat
aja dari semua video yang beredar, paling cuma dikit yang diusut oleh aparat. Paling cuma
video BLA, pejabat DPR YZ dengan ME, dan video artis," klaim Mas Sony sambil
mengeluh.
Soal perundangan yang kurang jelas dan kurang beraninya aparat dalam mengambil tindakan
dalam kasus-kasus video porno, juga disepakati pakar telekomunikasi Roy Suryo. Menurut
dia, RUU APP dan KUHP belum mengatur masalah ini dengan detail. "Kalo enggak ada
orang yang ngadu, yo wis, enggak bakal diproses secara hukum oleh aparat," jelasnya
dengan logat Jawa yang khas. Meskipun demikian, Pak Roy enggak menafikan effort aparat
untuk menyidik sejumlah kasus peredaran video. "Usaha dari aparat itu ada, namun
sayangnya yang terekspos kasus yang melibatkan artis, pejabat, atau public figure
saja," katanya.
Wah, bahaya banget dong kalo enggak ada perundangan buat jadi pagarnya, nanti bakal
semakin bebas aja nih, video-video tersebut!
"Pemerintah enggak tinggal diam. Sekarang sedang dirancang RUU Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE), dan saya sedang terlibat di dalamnya. Moga-moga, dengan
disahkannya RUU ITE ini, pengawasan dan tindakan terhadap masalah pornografi akan lebih
baik lagi," kata Pak Roy Suryo.
Yah, baguslah kalo ada peraturannya nanti. Tapi, sebenernya lebih baik mencegah
daripada mengobati, kan? Alangkah lebih baiknya kalo Belia semua enggak melakukan hal ini
sama sekali tentunya!
Nah, kenapa juga ya, ada temen-temen Belia yang mutusin kalo bikin dokumentasi adegan
mesra sama pacarnya jadi sesuatu yang penting? Emang jawabannya ada banyak. Namun, kalo
Belia ngelihatnya dari psikologi perkembangan, mungkin Belia bisa ngerti kenapa banyak
remaja yang akhirnya terjebak, entah karena iseng atau jutaan alasan lainnya.
Menurut Azhar El Hami, Psi., dosen fakultas Psikologi Unpad, masa remaja adalah masa
perkembangan, manusia akan berusaha mencoba banyak hal, mengeksplorasi sesuatu yang baru,
dan mencari jati dirinya. "Mungkin untuk remaja yang melakukannya untuk popularitas
dan sensasi, itu karena dirinya sedang krisis identitas, atau cari perhatian dari
lingkungannya," jelas Kang Azhar. "Mungkin ada yang emang iseng, karena remaja
emang masanya buat nyobain hal-hal baru, dan ada juga yang emang pengen jadi beken, dengan
cara apa pun.” Sayang banget emang, kalo cara tersebut dilakukan dengan membuat video
cuplikan bermuatan pornografi.
Menurut Kang Azhar, seiring dengan semakin mudahnya akses teknologi oleh remaja, maka
makin gampang juga mereka terkena efek negatif teknologi itu sendiri. Terlepas dari nilai
benar-salahnya melakukan kegiatan seks di luar nikah, seharusnya remaja bisa tahu kalo
kegiatan mendokumentasikannya justru lebih salah lagi, dan punya konsekuensi yang sangat
fatal. Di sini, Kang Azhar menyoroti aspek seks sebagai sesuatu yang tabu bagi masyarakat
Indonesia.
Walaupun remaja udah ngerasa pinter dan bisa mutusin banyak hal sendiri, tetep aja
filternya harus datang dari ortu. "Lagian, perilaku begini adalah buah dari pola asuh
anak yang kurang baik. Jika anak ditanamkan pemikiran dan pemahaman tentang sejumlah
nilai, terutama mengenai seks dengan tahapan pada tempatnya, pasti anak bakal mengerti
kalo satu perbuatan itu salah, dan punya dampak buruk," jelas Kang Azhar.
Seks itu emang kebutuhan yang dasar banget. Dan kalo bicara masa perkembangan di usia
remaja, ortu kudunya bisa ngasih pemahaman kalo Belia emang sedang mengalami
"perubahan" yang ngebuat Belia jadi tertarik banget sama seks. Hal ini emang
dipengaruhi sama pertumbuhan fisiologis Belia, yang dibarengi dengan produksi
hormon-hormon seksual. Perkembangan fisiologis ini, ujung-ujungnya ngaruh ke perilaku
psikologis, dan perilaku inilah yang harus dipagerin biar enggak keluar jalur. Akan lebih
baik kalo ortu Belia bisa ngebantu pada masa-masa usia remaja.
Nah, kalo soal baik-buruknya tindakan ngebikin video porno, silakan Belia nilai sendiri
aja deh, secara udah pada gede dan tahu mana yang hitam, putih, dan mana juga yang
abu-abu. Yang pasti, belia mau ngajak Belia untuk enggak jadi korban, seperti yang udah
dialamin temen-temen kamu yang kurang beruntung dalam menentukan langkahnya.
Ayo kita semua ucapin janji yang dikampanyekan Mas Sony Set dkk. dan jangan mau jadi
korban teknologi! ***
